Capacity Management Di Balik Kandang Sapi

MANUFACTURING HOPE 13

Dahlan Iskan lupa ini bukan Surabaya: jam lima pagi masih sangat gelap di Jambi. Tapi janji sudah terlanjur diucapkan: melihat perkebunan sawit milik PTPN VI, kira-kira satu jam naik mobil dari kota Jambi. Padatnya acara Hari Pers Nasional yang dihadiri Presiden SBY tanggal 9 Februari lalu, membuat tidak banyak pilihan waktu.

Di PTPN VI ini ada tubuh-tubuh seksi yang perlu dikunjungi: peternakan sapi yang dikombinasikan dengan kelapa sawit!

Sudah lebih satu bulan ujicoba sapi-sawit ini dilakukan. Memanfaatkan pelepah kelapa sawit untuk makanan ternak. Begitu banyak pelepah yang terbuang. Ini karena kelapa sawit tidak bisa dipanen kalau pelepah yang melindungi tandannya  tidak dibuang.

Setiap pohon sawit rata-rata panen 20 kali setahun. Berarti setiap pohon membuang 22 pelepah yang bisa dijadikan makanan ternak. Pelepah itulah yang  dimasukkan mesin. Dihancurkan sampai lembut. Selembut cacahan rumput. Lalu dicampur bungkil dari pabrik pengolahan sawit. Ditambah lagi blotong yang diambil dari buangan pabrik yang sama.

Betapa murahnya makanan ternak seperti ini. Kontras dengan peternakan yang ada. Betapa banyak peternak (sapi, kambing, ayam, bebek, lele, gurami) yang   terjerat harga pakan yang mahal. Akibatnya peternak kita kurang bergairah. Akibatnya kita selalu kekurangan daging. Akibatnya kita harus impor sapi. Impor lagi. Impor lagi. Tahun lalu Indonesia mengimpor 350.000 ekor sapi!

Kenyataan tingginya impor sapi inilah yang menantang siapa pun. Termasuk menantang teman-teman BUMN yang bergerak di perkebunan sawit. Mungkin teman-teman BUMN sawit yang bisa ikut mengatasi. Mungkin kombinasi sapi-sawit inilah solusinya.

Memang, sebelum melihat uji coba di PTPN VI Jambi ini, Dahlan Iskan sudah berpikir agar BUMN membuat peternakan skala besar di Sumba atau di salah satu pulau di NTT lainnya. Atau di Pulau Buru. Dahlan Iskan bersama seorang tokoh manajemen perubahan, Rhenald Kasali diam-diam memang lagi mempersiapkan studi peternakan skala besar di Pulau Buru.

Profesor Kasali sudah lebih dulu memiliki proyek sosial yang monumental di pulau Buru, Maluku. Ada kemungkinan masih bisa dikembangkan lagi untuk bidang peternakan. Dahlan Iskan belum berani mengungkapkan soal ini, karena belum begitu konkrit. Biarlah tim profesor Kasali meneruskan studinya. BUMN hanya akan menerima hasilnya dan kelak mengembangkannya.

Sebagaimana juga BUMN pangan yang harus dibesarkan,

Presiden SBY juga memberikan dorongan yang sangat besar untuk teratasinya kekurangan sapi ini. Rasanya banyak skenario bisa disiapkan. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan misalnya, termasuk yang sangat antusias mengatasi kekurangan daging ini agar kecerdasan generasi mendatang lebih tinggi lagi.

Sambil menunggu studi Pulau Buru, proyek sapi-sawit seperti yang di Jambi ini bisa dijalankan lebih dulu. Pagi itu, di sebelah kandang sapi yang berisi 50 ekor, diskusi serius dilakukan. Di samping ada Dirut PTPN VI, Iskandar Sulaiman, ada juga ahli serat kelapa sawit Dr Witjaksono. Juga doktor-doktor peternakan yang menekuni bidang ini. Misalnya, Dr Bess Tiesnamurti: kelahiran Jogjakarta, lulus S-1 di Undip Semarang, S-2 di Amerika Serikat, dan mengambil doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tentu Dahlan Iskan banyak bertanya kepada para ahli itu. Sesekali  menguji dan mengklarifikasi data. Ini karena pengetahuan Dahlan Iskan di bidang peternakan sangat terbatas.

Diskusi intensif perlu Dahlan Iskan lalukan karena Dahlan Iskan harus membuat keputusan yang strategis. Tidak boleh keterbatasan Dahlan Iskan menjadi penghambatnya. Memang di masa remaja, Dahlan Iskan adalah penggembala kambing. Bertahun-tahun setiap pulang sekolah Dahlan Iskan harus menggembalakan kambing milik tetangga –dengan upah kelak mendapatkan salah satu anak kambingnya. Dahlan Iskan juga biasa memandikan sapi atau kerbau asuhan teman-teman sepenggembalaan. Tapi Dahlan Iskan tidak pernah sekolah peternakan.

Diskusi itu terus dilakukan di sepanjang perjalanan kembali ke kota Jambi. Itulah sebabnya Dahlan Iskan dan Dirut PTPN VI gantian mengemudikan mobil. Para ahli itu sebagai penumpangnya. Diskusi di dalam mobil tidak kalah serunya. Saling gantian mengemudi begini juga penting, sekaligus untuk mengubah citra bahwa direksi perkebunan itu feodalistik.

Tiba di Jambi ratusan aktivis KAMMI Jambi sudah menunggu Dahlan Iskan untuk sebuah dialog. Karena itu sementara Dahlan Iskan terlibat diskusi dengan KAMMI, para ahli itu Dahlan Iskan minta mengadakan rapat dengan manajemen PTPN VI. Dahlan Iskan ingin hasil peninjauan dan diskusi sepanjang pagi itu ada follow up-nya. Para ahli itu, bersama direksi PTPN VI Dahlan Iskan minta membuat business plan.

Harapan Dahlan Iskan , ketika diskusi dengan teman-teman KAMMI selesai, Dahlan Iskan sudah bisa melihat business plan proyek sapi-sawit ini. Mereka ternyata benar-benar ahli. Sebelum Dahlan Iskan selesai acara di KAMMI, rapat itu sudah selesai. Busniness plan sudah tersusun. Ini karena bahan-bahan rapat itu memang sudah didiskusikan secara mendalam sejak jam 5 pagi.

Kombinasi ahli ternak dari Kementerian Pertanian dengan kemampuan manajerial direksi PTPN VI membuat pekerjaan bisa selesai cepat. Inilah yang membuat Dahlan Iskan pernah mengemukakan di Metro TV bulan lalu bahwa eksekutif BUMN itu sebenarnya hebat-hebat. Bahkan dari lima kali pemilihan Marketeer of The Year yang dilaksanakan oleh Hermawan Kartajaya, empat di antaranya dimenangkan oleh dirut BUMN!

Kami pun kembali ke kantor PTPN VI. Mendiskusikan busniness plan yang sudah dirumuskan. Berbagai angka diklarifikasi. Berbagai kesulitan dibayangkan. Berbagai hambatan diinventarisasi. Hasilnya: go! Peternakan sapi-sawit ini bisa dilaksanakan. PTPN VI Jambi, karena kebunnya yang hanya 32.000 ha (terkecil di antara perkebunan BUMN), menyanggupi dijatah 10.000 ekor sapi setahun.

Mulai kapan? Dimulai tahun ini juga. Kandang sudah harus dibuat bulan April nanti. Sebelum musim kurban hari raya haji Oktober nanti sudah harus mulai panen 2.000 ekor.

Business plan akan dimatangkan lagi dalam pertemuan antar direksi PTPN sawit seluruh Indonesia sebelum akhir bulan ini. Target 100.000 ekor sapi tahun ini harus dibagi di antara perkebunan yang ada. Tahun depan, kalau bisa, ditingkatkan menjadi 200.000 ekor.

Target waktu tersebut tidak sulit dicapai. Model kandangnya dipilih yang praktis. Memang ada dua model kandang: model berlantai semen yang tiap hari harus dibersihkan atau model lantai jerami yang hanya tiap tiga bulan diperbaharui. Dua-duanya sama baiknya.

Kalau model lantai semen yang dibuat agak miring, kotoran sapi itu bisa dimanfaatkan untuk bio gas. Sedang air kencingnya bisa untuk pupuk. Jangan meremehkan air kencing sapi. Kini harga air kencing itu sudah lebih mahal dari Coca-cola! Begitu bagusnya kandungan pupuk air kencing sapi, sehingga harganya kini mencapai Rp 10.000/liter!

Kalau lantai kandang itu terbuat dari hamparan sabut, tidak perlu  dibersihkan setiap hari. Biarlah tinja sapi bercampur dengan coca-colanya menyatu dengan sabutnya. Setiap tiga bulan lantai itu bisa diambil. Menjadi pupuk organik yang luar biasa. Pupuk inilah yang akan menyuburkan perkebunan sawit. Menggantikan hilangnya pelepah-pelepah yang selama ini dibiarkan membusuk di bawah pohon.

Tentu ide ini masih bisa dikembangkan. Begitu banyak rakyat yang memiliki kebun sawit sendiri. Tentu kelak, setelah melihat praktik di PTPN, mereka juga bisa meng-kopi-paste. Karena itu proyek sapi-sawit PTPN ini harus berhasil:  menjadi contoh untuk rakyat sekitar.

Bagi manajemen PTPN sendiri sebenarnya proyek ini kurang menarik. Hasilnya hanya serambut dibelah tujuh dibanding dengan hasil minyak sawitnya. Karena itu niat pengembangan sapi-sawit ini harus tidak sekadar bisnis. Melainkan juga untuk ikut menyelesaikan salah satu persoalan bangsa.

Bagi Dahlan Iskan , proyek seperti ini juga untuk melihat capacity yang sebenarnya dari sebuah manajemen di BUMN. Apakah sebuah BUMN sudah menggunakan kapasitas manajemennya secara maksimal? Apakah kapasitas besar yang dimiliki para direksi BUMN sudah sepenuhnya tercurah untuk kemajuan perusahaan? Atau masih banyak kapasitas yang terbuang di “arena lain”?

“Arena lain” itu tidak boleh terlihat begitu menariknya bagi manajemen BUMN. “Arena lain” itu bisa menggeser fokus. Dahlan Iskan sendiri sudah diingatkan banyak teman untuk jangan tergoda sering menghadiri acara yang tidak ada hubungannya dengan pengembangan BUMN. Belakangan memang terlalu banyak permintaan untuk sebuah aktivitas di luar BUMN. Dahlan Iskan harus segera menyadari bahwa itu adalah godaan. Dahlan Iskan akan memperhatikan peringatan teman-teman seperti itu.

Kembali ke fokus memang harus digalakkan: bekerja, bekerja, bekerja. Direksi BUMN yang selama ini hanya mengurus PSO (Public Service Obligation) misalnya, sudah harus mulai bergerak ke luar PSO. Agar kapasitas manajemen yang sebenarnya terlihat dengan nyata. PSO tetap harus dijalankan. Ini penugasan dari pemerintah. Tapi tidak boleh direksinya tidak bergerak di luar itu. Itulah sebabnya Dahlan Iskan gembira ketika PT Pusri, PT Sang Hyang Seri, dan PT Pertani bersemangat menangani pembukaan sawah baru besar-besaran. Bulog juga akan ikut bergerak menangani program intensifikasi sawah mandiri.

Kelemahan business as usual adalah: tidak akan bisa terlihat kapasitas manajemen BUMN yang sebenarnya. Business as usual tidak akan melahirkan manajemen yang tangguh. Dengan beban yang lebih banyak, dan target yang lebih tinggi, akan terlihat mana direksi yang benar-benar handal dan mana yang sebenarnya biasa-biasa saja. Peningkatan kapasitas direksi melalui penambahan beban seperti inilah jalan terbaik untuk capacity building.

Capacity building model ini juga akan terjadi di kelompok kehutanan. Inisiatif Perhutani untuk menggarap hutan sagu menjadi industri pangan adalah capacity building dari manajemennya yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan BUMN kehutanan (terutama Inhutani 1, 2, 3, 4, 5) tidak akan lagi kerja rutin: mengerjasamakan lahan dan mengerjasamakan apa saja yang dimilikinya. Bagaimana kita bisa melihat apakah direksi Inhutani itu hebat atau tidak kalau semua pekerjaannya di-sub-kan ke pihak ketiga?

BUMN PPA juga berubah. Tidak boleh lagi PPA menangani banyak hal yang kecil-kecil. Tahun 2012 ini PPA hanya akan menangani lima masalah saja tapi gajah-gajah. Sudah bertahun-tahun gajah-gajah-bengkak itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Di sinilah akan terlihat management capacity PPA yang sebenarnya. Mungkin agak heboh-heboh sedikit, tapi bukankah manajemen yang besar memang harus untuk menyelesaikan persoalan yang besar?

Kalau capacity building ini terjadi di semua bidang BUMN (perkebunan, pangan, gula, penerbangan, perbankan, kereta api, pelabuhan, kehutanan, energi, perkapalan, perhotelan dan seterusnya) hasilnya akan gegap-gempita. Kita pun akan tahu apakah kapasitas manajemen di sebuah BUMN itu sudah memadai atau belum. Kita pun akan tahu dengan sebenar-benarnya apakah semua kapasitas manajemen BUMN sudah termanfaatkan atau masih idle.

Semua itu harus sudah terbaca sebelum 1 Juli 2012.

Saat itulah ribuan sapi di kebun sawit sudah banyak yang mulai hamil.

Senin, 13 Februari 2012

( Sumber : dahlaniskan.net )

Tag: » Dipublikasikan : April 27th, 2014 under Dahlan Iskan Oleh redaksi | No Comments »

Selamat Datang Bos , Tolong dikomentari berita ini dengan sopan