GAJI dan fasilitas sudah tidak kalah. Kemampuan orang-orang BUMN juga sudah sama dengan swasta. Memang iklim yang mempengaruhinya masih berbeda namun plus-minusnya juga seimbang. Apakah yang masih jauh berbeda?

Tidak meragukan lagi, kulturlah yang masih jauh berbeda. Di BUMN pembentukan kultur korporasi yang sehat masih sering terganggu. Terutama oleh kultur saling incar jabatan dengan cara yang curang: menggunakan backing. Baik backing dari dalam maupun dari luar.

Backing dari dalam biasanya komisaris atau pejabat tinggi Kementerian BUMN. Tidak jarang juga ada yang menunggangi serikat pekerja. Sedang backing dari luar biasanya pejabatan tinggi kementerian lain, politisi, tokoh nasional, termasuk di dalamnya tokoh agama.

Dahlan Iskan masih harus belajar banyak memahami kultur yang sedang berkembang di semua BUMN. Itulah sebabnya sampai bulan kedua ini, Dahlan Iskan masih terus-menerus mendatangi unit usaha dan berkeliling ke kantor-kantor BUMN. Dahlan Iskan berusaha tidak memanggil direksi BUMN ke kementerian melainkan Dahlan Iskanlah yang mendatangi mereka. Sudah lebih 100 BUMN dan unit usahanya yang Dahlan Iskan datangi. Dahlan Iskan benar-benar ingin belajar memahami kultur manajemen yang berkembang di masing-masing BUMN. Dahlan Iskan juga ingin menyelami keinginan, harapan dan mimpi para pengelola BUMN kita. Dahlan Iskan ingin me-manufacturing hope.

Dengan melihat langsung kantor mereka, ruang direksi mereka, ruang-ruang rapat mereka dan raut wajah-wajah karyawan mereka Dahlan Iskan mencoba menerka kultur apa yang sedang berkembang di BUMN yang Dahlan Iskan kunjungi itu. Karena itu kalau Dahlan Iskan terbang dengan Citilink atau naik KRL dan kereta ekonomi itu sama sekali bukan untuk sok sederhana melainkan bagian dari keinginan Dahlan Iskan untuk menyelami kultur yang lagi berkembang di semua unit usaha.

Kunjungan-kunjungan itu tidak pernah Dahlan Iskan beritahukan sebelumnya. Itu sama sekali bukan dimaksudkan untuk sidak (inspeksi mendadak), melainkan untuk bisa melihat kultur asli yang berkembang di sebuah BUMN. Apalagi Dahlan Iskan termasuk orang yang kurang percaya dengan efektifitas sidak. Karena itu kadang Dahlan Iskan bisa bertemu direksinya, kadang juga tidak. Itu tidak masalah.

Toh kalau tujuannya hanya ingin bertemu direksinya Dahlan Iskan bisa panggil saja mereka ke kementerian. Yang ingin Dahlan Iskan lihat adalah kultur yang berkembang di kantor-kantor itu. Kultur manajemennya.

Dari tampilan ruang kerja dan ruang-ruang rapat di BUMN itu Dahlan Iskan sudah bisa menarik kesimpulan sementara: BUMN kita masih belum satu kultur. Kulturnya masih aneka ria. Masing-masing BUMN berkembang dengan kulturnya sendiri-sendiri. Jelekkah itu? Atau justru baikkah itu? Dahlan Iskan akan merenungkannya: perlukah ada satu saja corporate culture BUMN? Ataukah dibiarkan seperti apa adanya? Atau, perlukah justru ada kultur baru sama sekali?

Presiden SBY benar. Beberapa kantor mereka ada yang sangat mewah. Beberapa ruang direksi BUMN –beberapa saja– sangat-sangat mewahnya. Tapi banyak juga kemewahan itu sebenarnya peninggalan direksi sebelumnya.

Salahkah ruang direksi BUMN yang mewah? Belum tentu. Kalau kemewahan itu menghasilkan kinerja dan pelayanan kepada publik yang luar biasa hebatnya orang masih bisa memakluminya. Tentu saja kemewahaan itu tetap salah: kurang peka terhadap perasaan publik yang secara tidak langsung adalah pemilik perusahaan BUMN.

Kemewahan itu juga tidak berbahaya kalau saja tidak sampai membuat direksinya terbuai: keasyikan di kantor, merusak sikap kejiwaannya dan lupa melihat bentuk pelayanan yang harus diberikan. Namun sungguh sulit dipahami manakala kemewahan itu menenggelamkan direksinya ke keasyikan sorgawi yang lantas melupakan kinerja pelayanannya.

Di samping soal kemewahan itu, Dahlan Iskan juga masih melihat satu-dua BUMN yang dari penampilan ruang-ruang kerjanya dan ruang-ruang rapatnya masih bernada feodal. Misalnya ada ruang rapat yang kursi pimpinan rapatnya berbeda dengan kursi-kursi lainnya. Kursi pimpinan rapat itu lebih besar, lebih empuk dan sandarannya lebih tinggi.

Ruang rapat seperti ini, untuk sebuah perusahaan, sangat tidak tepat. Sangat tidak korporasi. Masih mencerminkan kultur feodalisme. Dahlan Iskan tidak mempersoalkan kalau yang seperti itu terjadi di instansi-instansi pemerintah, namun Dahlan Iskan akan mempersoalkannya karena BUMN adalah korporasi.

Harus disadari bahwa korporasi sangat berbeda dengan instansi. Kultur menjadi korporasi inilah yang masih harus terus dikembangkan di BUMN. Dahlan Iskan akan cerewet dan terus mempersoalkan hal-hal seperti itu meski pun barangkali akan ada yang mengkritik “menteri kok mengurusi hal-hal sepele”. Dahlan Iskan tidak peduli. Toh Dahlan Iskan sudah menyatakan secara terbuka bahwa Dahlan Iskan tidak akan terlalu memfungsikan diri sebagai menteri, melainkan sebagai Chairman/CEO Kementerian BUMN.

Efektif tidaknya sebuah rapat sama sekali tidak ditentukan oleh bentuk kursi pimpinan rapatnya. Rapat korporasi bisa disebut produktif manakala banyak ide lahir di situ, banyak pemecahan persoalan ditemukan di situ dan banyak langkah baru diputuskan di situ. Dahlan Iskan tidak yakin ruang rapat yang feodalistik bisa mewujudkan semua itu.

Dahlan Iskan paham: dengan kursi pimpinan yang berbeda mungkin dimaksudkan agar pimpinan bisa terlihat lebih berwibawa. Padahal kewibawaan tidak ada hubungannya dengan bentuk kursi. Susunan kursi ruang rapat seperti itu justru mencerminkan bentuk awal sebuah terorisme. Terorisme ruang rapat.

Ide-ide, jalan-jalan keluar, keterbukaan dan transformasi kultur korporasi tidak akan lahir dari suasana rapat yang terteror. “Terorisme ruang rapat” hanya akan melahirkan turunannya: ketakutan, kebekuan, kelesuan, dan keapatisan. Bahkan “terorisme ruang rapat” itu akan menular dan menyebar ke jenjang yang lebih bawah. Bisa-bisa seseorang yang jabatannya baru kepala cabang sudah berani minta agar kursi di ruang rapatnya dibedakan!

Tentu Dahlan Iskan tidak akan mengeluarkan peraturan menteri mengenai susunan kursi ruang rapat. Biarlah masing-masing merenungkannya. Saat kunjungan pun, saat melihat ruang rapat seperti itu, Dahlan Iskan tidak mengeluarkan komentar apa-apa. Juga tidak menampakkan ekspresi apa-apa. Dahlan Iskan memang kaget, tapi di dalam hati.

Yang juga membuat Dahlan Iskan kaget (di dalam hati) adalah ini: asbak. Ada asbak yang penuh puntung rokok di ruang direksi dan di ruang rapat. Ruang direksi yang begitu dingin oleh AC, yang begitu bagus dan enak, dipenuhi asap dan bau rokok. Dahlan Iskan lirik agak lama asbak itu. Penuh dengan puntung. Menandakan betapa serunya perokok di situ. Dahlan Iskan masih bisa menahan ekspresi wajah kecewa atau marah.

Dahlan Iskan ingin memahami dulu jalan pikiran apa yang kira-kira dianut oleh direksi seperti itu. Apakah dia merasa sebagai penguasa yang boleh melanggar peraturan? Apakah dia mengira anak buahnya tidak mengeluhkannya? Apakah dia mengira untuk hal-hal tertentu pimpinan tidak perlu memberi contoh?

Soal rokok ini pun Dahlan Iskan juga tidak akan mengaturnya. Sewaktu di PLN Dahlan Iskan memang sangat keras melawan puntung rokok. Tapi di BUMN Dahlan Iskan serahkan saja soal begini ke masing-masing korporasi. Hanya saja harus fair. Kalau direksinya boleh merokok di ruang kerjanya, dia juga harus mengijinkan semua karyawannya merokok di ruang kerja mereka. Dia juga harus mengijinkan semua tamu-tamunya merokok di situ.

“Kursi feodal” dan “puntung rokok” itu terserah saja mau diapakan. Dahlan Iskan hanya khawatir jangan sampai “nila setitik merusak susu se-Malinda”. Bisa menimbulkan citra feodal BUMN secara keseluruhan. Padahal itu hanya terjadi di satu-dua BUMN. Selebihnya sudah banyak yang sangat korporasi. (Sumber : dahlaniskan.net)

» Dipublikasikan : April 26th, 2014 under Dahlan Iskan Oleh redaksi | No Comments »

Selamat Datang Bos , Tolong dikomentari berita ini dengan sopan