Siantar pphe Cybernews – Masyarakat Simalungun Rela Mati Berjuang daripada menjadi Pusaka. Itulah salah satu bentuk ekspresi masyarakat yang merasa disingkirkan ole walikota P Siantar. Motto itu juga yang disampaikan dalam bentuk Spanduk sepanjang 12 M saat melakukan aksi unjukrasa di depan kantor walikota P siantar ( 19/4).

Dituding Melakukan Diskriminasi Masyarakat Simalungun Minta DPRD memberhentikan Walikota P Siantar. Masyarakat Simalungun Rela Mati Berjuang daripada Jadi Pusaka.

Dituding Melakukan Diskriminasi Masyarakat Simalungun Minta DPRD memberhentikan Walikota P Siantar. Masyarakat Simalungun Rela Mati Berjuang daripada Jadi Pusaka.

Menurut Siaran Pers gabungan masyarakat Simalungun, bahwa walikota Siantar sedang mempraktekan kebijakan diskriminasi terhadap masyarakat simalungun. Jabatan jabatan bergengsi seperti Dirut BUMD, dan kedinasan hingga kepala sekolah sangat sedikit sekali dipegang warga Simalungun. Padahal kulitas masyarakat Simalungun juga sangat baik, namun jabatan jabatan tersebut diisi oleh orang yang bukan dari masyarakat Siantar.

Begitu juga pembangunan tugu Sangnawaluh hingga saat ini prosesnya mangkrak padahal sekira 10 tahun lalu peletakan batu pertama telah dilaksanakan. Para pendemo menilai terdapat pola yang tersistem untuk menghilangkan eksistensi Masyarakat Simalungun.

Untuk itu para pengunjuk rasa yang berdatangan dari kantong kantong warga Simalungun di Daerah Siantar dan sekitarnya menuntut agar DPRD Siantar bersidang dan memberhentikan walikota Siantar karena kebijakan kebijakan yang dilaksanakannya memicu SARA yang berakibat ketidakstabilan keamanan di P Siantar.

Sementara Salah seorang tokoh Simalungun Janwi Serdo Saragih yang juga ikut memimpin aksi unjukrasa mengatakan bahwa dahulunya Siantar itu adalah ibukota kab Simalungun dan Masyarakat Simalungun telah lama eksis di P Siantar.
Pematangsiantar itu adalah tanah leluhur dan tanah budaya suku Simalungun.

“Sebelum jadi Kota, Pematangsiantar itu ibu kota Kabupaten Simalungun, sama kyak Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, Bandung , Cirebon dll.

Raja Siantar itu suku Simalungun, Sangnaualuh Damanik. Motto kota Pematamgsiantar, Sapangambei manoktok hitei itu dari bahasa Simalungun. Gedung kantor kantor di Siantar pakai Arsitektur dan Ornamen Simalungun. Kalau Presiden dan Tamu datang yang diberikan pakayan adat Simalungun” ujar Saragih.

Tag: » Dipublikasikan : Mei 1st, 2018 under Sumatera Terkini Oleh redaksi | No Comments »

Selamat Datang Bos , Tolong dikomentari berita ini dengan sopan