Medan pphe cybernews

Siang Senin (25/04) Saur Sitindaon baru saja memimpin sidang perkara Iwan seorang bandar Narkotika dengan ciri khasnya. Saat

Saur Sitindaon SH Hakim PN Medan

Saur Sitindaon SH Hakim PN Medan

menyidangkan Bandar besar Narkotika dengan barang bukti seberat 1 Kg Sabu sabu itu, Saur sering mengajukan pertanyaan yang sering mengundang tawa para pengunjung hingga mencairkan suasana persidangan.

Sang Bandar Narkotikapun usai diperiksa, seperti biasa Saur sebelum menutup persidangan terlebih dahulu menanyakan kepada JPU ( Dwi nova ) kapan tuntutan dibacakan. “ dua minggu pak” ujar Dwi Nova selaku JPU yang sering menjadi JPU kasus Narkotika besar.

Usai mendengar jawaban JPU, Saur pun menutup sidang. Kemudian sidang dilanjutkan dengan terdakwa Narkotika lain yang bernama Susanto.

Namun sebelum Saur membuka sidang dengan terdakwa Susanto. Dwi Nova yang juga selaku JPU memerintahkan pengawal tahanan memindahkan Susanto dari ruang sidang. Padahal Susanto sejak Iwan disidangkan sudah duduk diruangan sidang.

Mungkin Dwi Nova lupa majelis hakim yang menyidangkan Susanto adalah majelis Hakim yang dipimpin oleh Saur Sitindaon juga, sehingga Nova ingin memindahkan Susanto ke ruang sidang lainnya.

Tiba tiba Saur mengatakan “ Susanto“. Mendengar panggilan Saur, Nova terkesimak.” Oh jadi sidang ?” ujarnya.

Susanto-pun dihadirkan di kursi pesakitan. Tak lama 2 orang kuasa hukum Susanto menyusul masuk keruangan dan duduk di kursi pembela.

Saur-pun membuka sidang. “ jaksa bacakan dakwaan” ujar Saur Sitindaon. “ sudah pak sekarang esksepsi “ ujar Nova. “ ya silahkan penasehat hukum” ujar Saor kembali.

Sebelum membacakan esksepsi terhadap dakwaan JPU, Penasehat hukum bermaksud menyerahkan kuasa kepada majelis hakim, ternyata pada sidang sebelumnya Susanto belum didampingi penasehat hukum.

Namun surat kuasa yang akan diberikan penasehat hukum Susanto belum ditandatangani panitera atau belum lengkap sesuai peraturan. “ pak surat kuasa belum ditandatangani panitera” ujar salah seorang penasehat hukum Susanto.

“ apa dibenarkan begitu, nanti lama lama disidang dia bebas hakim juga yang disalahkan” ujar Saur sedikit mempermasalahkan keabsahan surat kuasa penasehat hukum. “Yah nanti dilengkapi pak “ ujar penasehat hukum.

Tarik menarik antara Majelis Hakim dengan penasehat hukum tentang keabsahan surat kuasa terjadi sejenak. Namun keadaan membaik Saur bersedia memeriksa sejauh mana kewenangan panitera dalam surat kuasa.

Setelah sejenak berpikir Saur mengatakan “ eksepsinya ada “. “Ada pak ini” ujar penasehat hukum sambil membawanya kedepan meja majelisa hakim. Tak lama Novapun menuju meja majelis Hakim.

Entah Saur merasa keabsahan surat kuasa dapat diterima, Saur –pun memberikan salianan eksepsi kepada nova.

“Jaksa tanggal lima dibacakan bantahannya ya “ ujar saur kepada Nova. “iya pak” ujar nova menyahuti permintaan Saor.

Tiba tiba penasehat hukum berkata “pak berkas Perkara belum ada sama Kami “ ujar penasehat hukum. “ surat kuasa juga belum beres banyak permintaan” ujar Saur dan kemudian menutup sidang tanpa eksepsi dibacakan dipersidangan.

Sejumlah wartawan berbisik bisik dan bertanya ke sesama mereka “ apa itu tadi sidang ? ko Eksepsi diterima tanpa dibacakan ?” protes wartawan namun tak didengar Saur.

Usai persidangan pphe coba meminta Eksepsi dari penasehat hukum Susanto. “ belum bisa mas, hakimnyapun lawak lawak eksepsi kita diterima tapi surat kuasa tidak “ ujar salah seorang penasehat hukum Santoso.

Tag: » Dipublikasikan : April 29th, 2014 under Hukum Dan Kriminal, Sumatera Utara Terkini Oleh redaksi | No Comments »

Selamat Datang Bos , Tolong dikomentari berita ini dengan sopan