Medan pphe cyber news – Sidang lanjutan perkara korupsi alkes RSUD Perdagangan Kab Simalungun  dengan terdakwa Andrianto SE yang digelar PN Medan  Senin (15/6) semakin menarik. Pasalnya sidang yang diagendakan menghadirkan 3 dari 4 supplier alkes menyatakan bahwa barang yang dikirim ke RSUD dipesan oleh Efendy Direktur CV Sumber Medica. Dan keempat saksi

efendy

Efendy direktur cv sumber medica saat menjadi saksi di PN Medan.

yang dihadirkan JPU mengaku tak mengenal Andrinto, Direktur CV Global Sukses.

Selain memesan barang barang tersebut, Efendy juga disebut telah berperan meminta surat dukungan pengadaan barang dari beberapa distributor atas nama CV Global Sukses untuk pengadaan Alkes pada RSUD Perdagangan, tahun 2011. Hal ini sangat bersesuaian dengan keterangan saksi kunci Wan Kek Alias Ali Sumitro pada minggu lalu Jumat (12/6), dimana saksi Ali Sumitro  menyatakan Efendy-lah yang mengatur pengadaan Alkes di Pemkab Simalungun.

Dalam keteranganya didepan majelis hakim, saksi Slamet Rianto. Direktur utama PT.Binabhakti Niaga Perkasa  mengatakan, Efendy cuma memesan satu barang yakni Section Fan seharga Rp.25.100.000,-itupun didiskon 50% sehingga menjadi Rp.12.050.000,-.
Menurut Slamet tingginya diskon yang diberikan karena barang yang dibeli Efendy adalah barang barang lama. ” itu barang lama dan harga cuci gudang” ujar Slamet menanggapi pertanyaan Majelis terkait besar diskon yang diberikan. Kemudian barang tersebut dijual kerumah sakit seharga Rp. 57 juta.

Sebelum membeli barang dari PT Binabhakti Niaga Perkasa, Slamet juga menjelaslan bahwa Efendy pernah meminta surat dukungan pengadaan barang untuk melengkapi dokumen lelang CV Global Sukses pada pengadaan Alkes Di RSUD Perdagangan tahun 2011.

Sedangkan saksi Adi Swandi Danu Jaya juga juga direktur perusahaan distributor alat kesehatan dari Jepang mengatakan bahwa Efendy juga pernah meminta dukungan dari perusahaannya untuk melengkapi dokumen penawaran lelang CV Global Sukses di RSUD Perdagangan. Menurut  saksi, Efendy memesan Anastesia Machine  seharga 120 juta  dan dijual ke rumah sakit sekira 513 juta.

Sedangkan saksi Robby dari bengkel las Paris Jaya mengatakan bahwa Efendy selaku direktur  CV sumber medica pernah memesan 25 tempat tidur rumah sakit dengan harga 108 juta. Harga perunitnya sekira 4 jutaan. Kemudian  tempat tidur tersebut dijual ke RSUD Perdagangan seharga 18 juta per unit, dengan total harga 450 juta.

” buat tempat tidur yang ada 3 engkolnya, yang pesan pak Efendy dari CV sumber medica” ujar Robby menjawab pertanyaan majelis terkait cara memesan tempat tidur yang dilakukan Efendy.

Saksi terakhir yang diperiksa majelis adalah Efendy. Sebelumnya Ali Sumitro mengatakan Efendy-lah yang punya proyek di RSUD Perdagangan dan dirinya hanyalah pekerja yang mendapat upah Rp 100 juta. Saat Efendy diperiksa majelis hakim, jawaban Efendy tidak berkaitan antara satu dan lainnya. Sehingga  Majelis berulang kali mengingatkan agar Efendy bersikap jujur, setidaknya majelis ada sekira 5 kali memperingatkan Efendy.

Menurut Efendy dirinya hanya berurusan dengan Ali bukan kepada CV Global Sukses. Namun fakta persidangan 2 saksi dari distributor mengatakan bahwa Efendy pernah mengurus surat dukungan distributor untuk melengkapi dokumen penawaran lelang CV Global Sukses di RSUD Perdagangan pada tahun 2011.

Hal yg membuat Efendy sempat terlihat shock adalah saat, penasehat hukum terdakwa Andrianto memperlihatkan rekening koran CV Global Sukses. Pada rekening koran yang dikeluarkan oleh bank BNI tersebut menunjukan adanya pembayaran dari RSUD Perdagangan sebesar Rp.3.534.144.181,- tertanggal 12 oktober 2011 dan pada tanggal yang sama tercatat Efendy menarik dana sebesar Rp.3.534.000,000,- melalui cek yang dikeluarkan oleh Andrianto sebagai direktur CV Global Sukses. Menanggapi hal ini Efendy dengan suara gugup mengatakan bahwa penarikan check tersebut adalah untuk pembayaran hutang Ali Sumitro. Atau sama saja Efendy mengatakan Hutang Ali Sumitro jumlahnya sama persis dengan pembayaran pelunasan dari RSUD Perdagangan.

Pada sidang tersebut Majelis hakim juga melakukan komfrontir antara keterangan Ali Sumitro  pada sidang yang lalu dengan Efendy. Ali sumitro yang turut hadir saat dikomfrontir mengatakan Efendy mengatur semua dokumen penawaran lelang dan penentuan HPS. ” semua mulai pembuatan dokument penawaran lelang dan HPS, Efendy Efendy yang mengaturnya” ujar Sumitro pada majelis.

Dari fakta persidangan sedikitnya 2 alat bukti yakni pernyataan saksi dan rekening koran dan 1 petunjuk yakni pertemuan di Siantar hotel terkait keterlibatan Efendy telah terbukti. Namun Kejaksaan tinggi masih buta terhadap aktor utama kasus korupsi
Alkes RSUD Perdagangan.

Usai pemeriksaan saksi sidang kemudian ditunda hingga Jumat (19/6) depan.

Tag: » Dipublikasikan : Juni 16th, 2015 under Korupsi, Sumatera Utara Terkini Oleh redaksi | No Comments »

Selamat Datang Bos , Tolong dikomentari berita ini dengan sopan