Medan pphe Cybernews – PT Siemens mengakui adanya perbedaan desain antara flame

Flame Tube

Ilusstrasi Flame Tube

tubes DG 10530 existing/terpasang di GT 1.2 Belawan versi 1992 dengan flame tubes baru yang dipasok CV Sri Makmur pada 2007. Namun, Siemens memastikan meski desaign bebeda flame tubes yang baru dapat dipasang dan beroperasi lebih baik.

Hal itu ditegaskan General Manager Service PT Siemens Indonesia Christoph SM Silalahi, saat menjadi saksi pada sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan flame tubes DG 10530 oleh PT PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (Kitsbu), dengan terdakwa mantan GM PLN Kitsbu Albert Pangaribuan, dan Ferdinan Ritonga (pemeriksa mutu barang), di Pengadilan Tipikor Medan.

Christoph mengatakan, perbedaan desain yang paling utama antara flame tubes yang lama dan baru ada pada letak dan susunan batu tahan apinya. Flame tubes yang lama batu tahan apinya terletak di atas, sedangkan yang baru di tengah.

“Flame tubes lama versi 1992 sudah superseded atau tidak diproduksi lagi. Namun, bukan flame tubes saja yang mengalami perubahan desain, banyak produk Siemens yang diproduksi di Jerman juga mengalami modifikasi,”katanya.

Meski berbeda desain, Christoph menjamin flame tubes baru yang dipasok CV Sri Makmur dapat dipasang dengan baik di GT 1.2 Belawan. Bahkan, menurutnya, flame tubes baru tersebut bisa beroperasi lebih baik ketimbang flame tubes lama versi 1992 karena kualitasnya lebih baik.

“Flame tubes DG 10530 yang baru memang orisinil produksi PT Siemens di Jerman. Dan, kualitasnya lebih baik dari flame tubes lama versi 1992,”jelasnya.

Karena adanya perbedaan desain tersebut, lanjutnya, PT Siemens menawarkan pemasangan flame tubes secara gratis kepada PT PLN untuk memastikan flame tubes tersebut terpasang sempurna di GT 1.2 Belawan, sehingga dapat beroperasi dengan baik seperti telah dilakukan di negara lain, di antaranya Singapura. Tawaran itu disampaikan Christoph pada rapat yang digelar 22 Februari 2008 terkait adanya perbedaan desain flame tubes tersebut.

“Dalam rapat 22 Februari 2008, saya mengklarifikasi perbedaan desain flame tubes lama versi 1992 dan flame tubes baru. Sebagai rasa tanggungjawab kami, Siemens pun memberikan supervisi dan pemasangan flame tubes secara gratis apabila PLN mengalami kesulitan dalam pemasangannya. Sebab, pemasangan flame tubes itu sangat kompleks,”katanya.

Namun, menurutnya, bukan PT Siemens yang memasang flame tubes tersebut ke GT 1.2 Belawan. Sebab, tawaran Siemens tersebut tidak terealisasi, karena tidak ada permintaan dari PLN.

“Setelah rapat 22 Februari 2008, PT PLN tidak ada meminta Siemens untuk memasang flame tubes baru tersebut,”katanya.

Dari persidangan sebelumnya terungkap, flame tubes yang tiba di Belawan pada 19 Desember 2007, baru dipasang pada akhir 2010 oleh PT PJBS. Pemasangan itu diikat dengan kontrak baru dan tidak melibatkan PT Siemens.

Christoph juga menegaskan, pihaknya tidak bertanggungjawab apabila flame tubes yang telah dibeli konsumen dimodifikasi oleh pihak lain. “Bila telah dimodifikasi pihak lain, garansi yang diberikan PT Siemens otomatis gugur,”tegasnya.

Sementara di persidangan terungkap, flame tubes yang dipasang PT PJBS telah mengalami modifikasi dari produk aslinya. Sejumlah lubang baru terpaksa dibuat agar flame tubes terpasang di GT 1.2 Belawan. Bahkan, sejumlah bagian dari flame tubes lama kembali digunakan di flame tube yang baru.

Menanggapi keterangan bos PT Siemens Indonesia itu, terdakwa Albert Pangaribuan mengatakan dirinya tidak tahu menahu soal rapat yang digelar baik pada 22 Februari dan 14 Maret 2008 tersebut. Dia juga menyatakan tidak tahu soal pembayaran pembelian flame tubes kepada PT Siemens karena dirinya sudah dimutasi ke pusat.

Tag:, » Dipublikasikan : Februari 12th, 2014 under Korupsi Oleh redaksi | No Comments »

Selamat Datang Bos , Tolong dikomentari berita ini dengan sopan